Aku ingin menulis kembali semua yang pernah dihapus malam diam-diam. Mimpi benih padi tentang laut pasang yang menjadikannya ilalang.

Aku ingin menulis niat tulus gelombang dan gemetar kayuh nelayan. Tentang anaknya yang ingin menating layang-layang di deras tarian angin selatan.

Aku ingin menulis tentang kirip lentera. Melindap di sela lidah anak-anak muara. Melafalkan alif dan menyelaraskan panjang pendek aksara.

Aku ingin menulis gelegar suara Haji Sata. Dengan telingaku yang masih sangat muda. Tentang suara agak berat, kopiah putih dan surban yang luruh di bahunya.

Aku ingin menebak diamnya Kai Marzuki. Ketika ia menikamkan matanya ke lantai surau. Ketika kedua tangannya memayung dan doa tolak bala ia baca dengan suara gemetar.

Doa adalah senjata. Rakaat kedua Jum’at itu ia keluar dari kumpangnya.

3 tanggapan untuk “Kumpang dan Kampung Halaman.

      1. Salam kembali dan mohon ijin untuk mengagumi. *mengagumi saja dulu, mengaku sebagai penyair aku belum berani.
        Sungguh. Jangan mohon ijin belajar padaku. Rasanya seperti…seperti… *Salah tingkah itu rupanya begini.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s