Mencatut Indonesia

Ibu pertiwi belum kering air tangisnya. Kita masih saja bermain-main ular tangga. Menggulirkan nasib bangsa. Berdadu data. Bermain perosotan di atas angka-angka.

Kulihat darah makin berlinang. Di rumah sakit, di lubang tambang, di meja sidang.  Luka kian mengangkang.

Ibu pertiwi belum habis susah hati. Ada kematian yang tak sempat dicatat. Ada kelahiran yang dipaksa cacat.
Ada iklan kekuasaan yang ingkar tak sesuai dengan ikrar kampanye yang sangat gampang diralat.

Kujilat darah di bibirnya. Merintih dan berdoa.
Sementara mereka masih khusyuk berdusta
Mencatut Indonesia.

Iklan Pembesar Kelamin yang diawali Kata Percuma

Percuma saja jika kau merajakan nafsu. Sebesar paus. Tapi tak sanggup menyelam lautan puas.

Percuma saja jika kau mengaku paling lelaki. Ketika jelajah kaki tak sepuncak kehendak daki.

Percuma saja jika kau umbar sesumbar birahi. Dalam binal pergelutan. Kau gagal jadi pejantan.

Tanda Mata

Ada yang akan segera jatuh. Yang dulu tak sempat kupesankan lewat bunga.
Matamu adalah bumi yang kupilih. Ketika Tuhan menyuburkan dunia sebagai tanah selain surga.

Ada yang diam-diam meminta. Seorang fakir  mengemas rasa. Matamu adalah satu-satunya cahaya yang membuatku merasa kaya.  Selepas gelap terbitlah cinta.

Beberapa Contoh Metafora Sederhana di Kelas Menulis Puisi Cinta.

Cintaku itu seperti Bu Guru. Memaksa ingat dan tak boleh lupa.    Tugas rumah yang mulia. Pekerjaan yang harus segera dimulaikan. Menuliskan namamu di setiap lembar yang selalu bertanya. Siapa orang yang menyayangimu selamanya?

Rokok itu seperti aku.  Terlalu lama  menunggu. Mengasapi sepi yang dibakar waktu. Meracuni janin rindu.

Cermin itu tersenyum malu-malu. Aku melihat bayanganmu. Pecah dalam hatiku.

Daun itu jantung jati. Jatuh hati-hati ke hati.

Malam yang Lain

Di belantara langit malam Engkau sudah sampai. Tiba lebih awal. Mengintip rahasia. Mengutip bisik pucuk-pucuk muntaha-Nya. Secepat kilat menjalar.

Di lentera senja. Aku masih tertatih. Petaku menuju petaka.
Meniti akar yang makar. Mengucup percik-percik muntahannya. Sepat sisa gigitan ular.

Ruang Raung

Kita tak pernah sungguh-sungguh berpelukan.
Tersapih adalah caraku memenjarakanmu agar tak tertiup  fana durjana.
Ada mihrab dan malam yang menyediakan  ruang doa yang tak terlalu lebar.


Lalu kita bertemu dalam sebuah perjamuan.

Kita tak pernah sungguh-sungguh saling melupakan.
Terpisah  adalah caramu mengajarkanku agar tak tertipu fatamorgana.
Ada magrib dan malam yang menyedukan  raung dosa yang lapar.  

Lalu kita saling menjamu dalam sebuah pertemuan.

Apakah dengan Foto Berdua Sesering Mungkin Cinta Kita akan Abadi?

Apakah cinta yang kita upayakan abadi itu setuju dan kita menandainya dengan memberikan senyum yang sebaik-baiknya disaksikan cahaya dan kamera?

Apakah senyum yang sebaik-baiknya itu mampu menjadi bukti yang kuat. Haruskah kita  mempertegasnya dengan pelukan yang lebih erat?

Apakah pelukan yang lebih erat itu sudah cukup meyakinkan untuk menjadi sebuah alibi. Kita kadang tak mahir menyembunyikan gugup jeriji. 

Lalu kita harus kembali tunduk pada fatwa kamera. Ada pengaturan yang mesti direka ulang untuk membuatnya tampak bahagia?