Pemandangan di Kolam Renang

Seorang ayah yang tak bisa berenang mengantar kedua anak perempuannya ke kolam renang. Ia tenggelam dalam lamunan.

Kedua anak perempuannya itu berenang dengan riang. Mereka hanyut dalam lamunan ayahnya.

Lelaki lain meyakinkan anak perempuannya. Gerakkan kakimu seperti mengayuh sepeda. Anggap saja kolam ini lapangan sepak bola. Ucapannya itu menendang-nendang gendang telingaku.

Seekor kucing tertidur pulas di pinggir pagar. Ia menikmati mimpinya setelah dicakar-cakar rasa lapar. Di kolam itu hanya ada gambar ikan mas koki yang sedang tersenyum lebar.

Seorang perempuan muda menunggu warung ibunya. Listrik sedang mati, ia menatap kosong blender dan es batu. Mengaduk-aduk sesuatu yang meleleh di hatinya. Tagihan Perusahaan Listrik Negara sudah dua kali datang di tanggal muda.

Iklan

Bersembah Darah

Aku berteriak di tengah malam
Wahai musuh, datanglah!
Kita habiskan sekarang juga
Segenap utang piutang yang terus mengendap menjadi riba di dalam dada.

Aku menantang di tengah gelombang
Wahai seteru, acung gancangkan badai badikmu
Kusambut dengan goncang ombak tombakku.
Hari ini kita habiskan.

Dendam siapa yang akan mati tenggelam.

Aku melihat bayangan tajam
Menikamku dari belakang
Matahari magrib rebah
di atas tubuhku sendiri

: bersembah darah

Dupa Tahun Haru

Aku ingin memajang fotomu di malam tahun haru.
Membakar dupa, kado  untuk kala lalu.

Kau pergi saat matahari menyipit. Sehimpil senja himpal di luncup sumpit.

Aku memilih durhaka daripada menjadi murid setia. Kuhamburkan gambar tuak dan uang kertas palsu diiringi desah petasan
Semacam ucapan perpisahan.

Aku tak akan pernah membalas dendam.

Maharagu Rasa

Pada batang layang-layang
Kuingin angin itu menjadi hakim yang imbang. Ketika cinta diuji dan ditimbang.

Antara semacam cemas kehilangan
dan
sepanjang  tangan terulur merelakan

Setepis kenang, setipis benang. Selalu ada  yang masih sangkut ketika kita terus belajar menapis menampi bulir-bulir ingatan.

 

Sembilan Kali Sembilan

Mataku terbuka dan jarum jam masih berdiri di atas angka sembilan

Kakiku pulang setelah bertualang seharian dan jarum narakala itu masih menungguku di atas angka sembilan

Anak pertamaku lahir, istriku menangis, Jam di dinding itu ikut terharu di ujung angka sembilan.

Anak keduaku lahir  setelah makan sahur. Aku dan jam dinding tak sempat berpamitan. Yang aku ingat kebahagiaan itu datang bulan ke sembilan tahun ke tujuh setelah pernikahan. Tepat hari ke sembilan bulan Ramadan.

Malam pekat tanpa kunang-kunang. Kuku-kuku cahaya mati ditelan gerhana bulan tepat di angka sembilan.

Sore itu seseorang datang membawa undangan. Waktu pertemuan sudah dekat. Semacam reuni yang cemas kau nantikan. Tak sengaja kulihat angka yang ditunjuk jarum itu masih tetap sembilan.

Silakan masuk, Tuan. Acaranya segera dimulai. Semacam pesta di pemandian. Tempat wisata mereka yang ingin menjauh dari keramaian. Di pintu gerbang kubaca tulisan. Selamat datang di Wahana Mandi Sembilan.

Aku menutup mata dan kulihat jarum jam bergerak pelan. Meninggalkan angka sembilan. Jantungnya yang dulu kupinjam kini telah aku kembalikan.

 

#batraieveready

#kucinghitamdanangkasembilan

Unggal-Unggal Apung

Di kampung kita ini dulu partai penguasa tak pernah menang telak, Nak.
Itu sebabnya kau bertanya, Pak mengapa jalanan menuju sekolahku licin dan licak.

Sehabis magrib, selepas mengaji. Kau besarkan nyala lampu semprong supaya kau bisa lebih jelas menggambar peta negeri ini. Yang kau ingat-ingat setiap lekuk pulaunya saat mengintip televisi tetangga yang mulai redup hampir habis akinya.

Sebelum malam kau bayangkan kaki kokoh bapak adalah dua pilar bianglala. Kau bergelantungan, naik turun sambil tertawa.