Pelayan

Kulafalkan sumpah itu
Meski lirih tapi engkau mendengar
Ketika aku bergetar
Membibirkan namamu

kau mengutuk pundakku pelan
Sekarang kau resmi
jadi pelayan

Iklan

Kenapa Darah?

Kenapa kau harus meminta matiku
Tak cukupkah aku sekedar hilang dari matamu

Kenapa mesti darah
Membasuh tahi hatiku

Kenapa bukan air mata
Kenapa darah?

Amar Mangrove kepada Tanah yang Ingkar

Dari tanah engkau berasal. Lahir sebagai tonggak. Bertiang tulang menyangga gelombang.

Akar-akar durhaka

Mencengkeram ibu bumi. Dijemput ombak. Ia beringsut pergi. Menuju seberang di mana restunya .Tak akan pernah bisa

kau jala lagi

Bait-bait menangisi bebatuan . Sisa-sisa nisan pedatuan.Tak ada lagi tangan tempat menadah. Hanya ada nama dan segunduk tanah.

Peta Buram di Petamburan

Di atas reruntuhan peluru tak bertu(h)an. Aku masih mendengar rintihan ruh yang luruh.

Malaikat juru pati terdiam, tangan-tangan maut seperti pelari. Ke segala penjuru. Dikejar-kejar kera-kera yang serakah dan kerasukan.

Mandat Tuhan yang hanya kepadanya dikuasakan. Seakan dirampas oleh gemuruh dendam perusuh dan deru sepatu pasukan. Mereka lupa angka dan hari di kalender masih menyisakan waktu untuk matahari. Terbit dan tenggelam.

Anak-anak kecil mengeja cita-citanya. Mengenang petuah nenek moyang. Di atas peta buram.